Minggu, 30 Desember 2012

Media Massa Dalam Era Globalisasi

Pada hakekatnya, kehadiran sebuah media, baik media cetak maupun elektronik adalah untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akan informasi secara lengkap, obyektif, dan imparsial. Oleh karena itu, kehadiran sebuah media massa harus mampu menjawab pertanyaan apakah fungsi informasi, (to inform), fungsi mendidik (to educate), fungsi mempengaruhi (to influence), fungsi menghibur (to entertain), dan fungsi pengawasan sosial (control social) dapat dilaksanakan secara seimbang dan berkelanjutan.

Dengan demikian, Pers di Indonesia diharapkan ikut menjadi bagian dari tujuan bangsa ini untuk mencapai kesejahteraan rakyat, dengan memberitakan program pemerintah yang baik, obyektif, serta adil dan jujur (fair). Serta mampu bersaing dalam era globalisasi media yang kini tengah berlangsung.
Perubahan pola perilaku masyarakat dalam menggunakan teknologi informasi dan media baru seperti internet, siaran televisi berbasis internet protokol (IPTV), dan banyak lagi produk turunan perkembangan TI yang semakin pesat dipastikan harus dapat segera diantisipasi dan diikuti media massa konvensional seperti media cetak, radio, dan TV.

Persaingan yang dihadapi surat kabar sekarang juga semakin ketat, menyusul bermunculannya pesaing dalam bentuk media lain.

Sejak siaran televisi menjamur pasca-era reformasi, pembaca koran memiliki pilihan lain. Bahkan, televisi lebih menarik karena disertai suara, gambar bergerak, dan keunggulan menyampaikan peristiwa/berita kepada pemirsa lebih cepat.

Perubahan harus dilakukan walaupun sulit memprediksi apakah media surat kabar sudah akan hilang atau tidak diminati lagi dalam 20 tahun ke depan atau tetap bertahan. Mungkin di masa depan surat kabar tidak lagi dalam bentuk yang sekarang, melainkan sudah berubah menjadi format surat kabar elektronik yang jauh lebih maju.

Menurut Kepala Mobile TV and Video Experiences Nokia Asia Pasifik Pawan Gandhi, kehadiran media baru di tengah masyarakat dipastikan menimbulkan perombakan besar-besaran pada kebiasaan orang. Misalnya, yang sebelumnya membaca koran atau menonton televisi dalam satu ruang keluarga bersama-sama, menjadi lebih individual.

Perkembangan teknologi informasi yang begitu pesat telah mengubah perilaku masyarakat dalam mengonsumsi informasi. Karena itu, saat ini media cetak dihadapkan pada suatu tantangan yang sangat berat, yang belum pernah dihadapi sebelumnya.

Perkembangan media elektronik sangat luar biasa. Hadirnya unsur kecepatan dan teknologi membuat media elektronik lebih disukai, terutama oleh generasi muda. Untuk menjawab tantangan tersebut, tidak ada pilihan bagi pengelola media cetak, kecuali meningkatkan kemampuan profesional. Itu tidak cukup hanya dilakukan oleh wartawan, tetapi juga oleh pihak penerbit yang menaungi para wartawannya.

Lisensi Pers Asing Versi Indonesia

Disamping pertumbuhan pers Indonesia yang begitu pesat, terdapat pula penambahan pers dari hasil lisensi pers asing versi Indonesia. Beberapa lisensi pers asing versi Indonesia misalnya lisensi Rolling Stone versi Indonesia yang menjadi majalah Rolling Stone pertama yang terbit di Asia. Grup Kompas Gramedia, misalnya telah membeli lisensi majalah National Geographic.

Majalah lisensi asing pertama di Indonesia adalah majalah anak-anak Bobo, yang terbit pada 1973 dan mencapai tiras 250 ribu eksemplar. Tapi majalah model begini kian ramai sejak Grup Mugi Rekso Abadi (MRA) memelopori penerbitan majalah Cosmopolitan versi Indonesia pada Agustus 1997. Kini majalah lisensi mencapai bilangan 30, dengan tiras 30 ribu hingga 140 ribu eksemplar tiap edisi.

Bahkan secara khusus Shahidul Alam, fotografer dan pendiri Dirk Picture Library, Bangladesh, memberikan makalah dengan judul "Publishing from the Street: Citizen Journalism". Pada kesimpulannya dia menekankan kepada jurnalis profesional agar tidak serta-merta tergoda bisikan dari cyberspace.

Sementara itu, Christian Caujole, Art Director Agence and Gallerie Vu, yang dalam rangka ulang tahun World Press Photo ke-50 ini menerbitkan buku Things As They Are, juga memberikan tanggapan soal pers rakyat. Dia menganggap Internet hanya sebagai alat penyebaran informasi, banyak aspek yang membuatnya tidak dapat mengungguli media mainstream.

Perubahan Format

Lembar koran versi klasik dengan ukuran lebar (broad sheet) jelas merepotkan pembaca. Ruang dalam kendaraan yang tak seberapa tentu membutuhkan ukuran yang lebih praktis. Pembaca pun membutuhkan format koran yang lebih kompak. Jika diperhatikan, sejumlah surat kabar nasional telah mengubah formatnya menjadi lebih kecil. Misalnya Koran Tempo dan beberapa tabloid lainnya.

Alternatif yang dipilih, biasanya dari sembilan kolom menjadi tujuh kolom. Beberapa surat kabar daerah pun tidak ketinggalan mengambil langkah serupa. Tren perkembangan ini dipelopori oleh negara-negara Barat, begitu pula dengan format surat kabar. Amerika Serikat sudah lebih dulu melakukan perubahan itu sejak pertengahan dasawarsa 1980-an.

Media massa seperti The Times atau New York Times misalnya, dalam masa itu mengalami penurunan tiras. Tak pelak, hal ini merisaukan para petinggi perusahaan media massa tersebut. Salah satu strateginya adalah mengubah format dengan ukuran yang praktis. Terbukti strategi itu dapat mendongkrak kembali jumlah tiras.

Di sisi lain, perubahan format mengharuskan penulisan berita menjadi lebih singkat dan padat. Hal itu justru membantu pembaca karena berita tidak menjadi bertele-tele. Tetapi sebaliknya menimbulkan pendangkalan berita karena isinya hampir sama dengan media elektronik, Surat kabar tidak boleh kehilangan esensi tugasnya untuk dapat mencerdaskan masyarakat, memperluas wawasan, dan memberikan pencerahan.

Perubahan format yang dilakukan surat kabar biasanya disertai dengan pencantuman deskripsi sekilas berita-berita di halaman depan. Penjelasan berita yang dimuat di halaman dalam koran itu menjadi semacam tuntunan untuk memudahkan pembaca. Itu menarik. Jadi, koran sekarang berupaya lebih ramah kepada pembaca. Itu juga daya tarik untuk mengimbangi berita televisi yang lebih cepat. Panduan berita itu sekaligus memberi tahu bahwa informasi koran lebih kaya dibandingkan media elektronik.

Faktor paling penting dari surat kabar adalah isinya. Sesuai dengan keunggulan yang dapat memuat informasi lebih banyak dan detail, surat kabar seharusnya bisa menampilkan karakteristik itu.

Pelanggan daerah

Selain format surat kabar yang berubah, langkah lain yang dilakukan adalah menyisipkan lembaran daerah. Sebab, koran nasional selama ini sudah dianggap terlalu Jakartasentris. Padahal, potensi pembaca lokal di daerah sebenarnya cukup tinggi.

Menurut teori kedekatan (proximity), pembaca akan lebih memilih berita yang terjadi di daerahnya ketimbang di tempat lain. Berita pembunuhan di Siantar, misalnya, cenderung lebih dulu dibaca penduduk Siantar dibanding peristiwa serupa di Jakarta. Tidak heran jika faktor itu pula yang menimbulkan fanatisme di kalangan pembaca lokal.

Selain itu, wartawan lokal yang lebih menguasai isu, bahasa, dan kebudayaan daerahnya juga menjadikan sebuah berita memiliki cita rasa berbeda dengan wartawan nasional.

Jumlah iklan yang dipasang pun memengaruhi minat membaca koran. Semakin banyak iklan lokal, semakin banyak pula pelanggan daerah yang ingin membaca.

Fenomena ini tak lepas dari masalah tradisi. Jika suatu keluarga berlangganan koran lokal, ada kecenderungan generasi selanjutnya melakukan hal yang sama, meski hal itu tak selalu terjadi.

Mengingat itu, koran lokal sulit dikalahkan oleh koran nasional. Demikian pula untuk sebaliknya, koran lokal tentu tak dapat bersaing untuk skala nasional.

Jurnalisme Damai

Jurnalisme damai adalah jurnalisme yang mampu mengembangkan wawasan dan karya jurnalisme bernuansa sejuk, yaitu "kultur jurnalisme yang khas", wawasan jurnalistik yang berlandaskan filsafat politik tertentu. Kultur jurnalisme damai ini sekarang telah menjadi referensi bagi kehidupan jurnalisme di Indonesia.

Jakob Oetama juga salah satu raksasa jurnalis di negeri ini yang menawarkan jurnalisme damai telah berhasil membuka horizon pers yang benar-benar modern, bertanggung jawab, nonpartisan, dan memiliki perspektif jauh ke depan dan dipandang telah berhasil menggunakan pers sebagai wahana mengamalkan pilar-pilar humanisme transedental melalui kebijakan pemberitaan yang memberikan perhatian sentral pada masalah, aspirasi, hasrat, keagungan dan kehinaan manusia dan kemanusiaan.

Jakob Oetama mengemukakan bahwa pencarian makna berita serta penyajian makna berita semakin merupakan pekerjaan rumah dan tantangan media massa saat ini dan di masa depan. Jurnalisme dengan pemaknaan itulah yang diperlukan bangsa sebagai penunjuk jalan bagi penyelesaian persoalan-persoalan genting bangsa ini.

Kebebasan pers

Konstitusi tegas menjamin kebebasan mengeluarkan pendapat, baik secara lisan maupun tulisan. Dan Undang-Undang Pers Nomor 40/1999 dengan jelas menetapkan pers nasional tidak dikenai penyensoran, pembredelan, atau larangan penyiaran.

Kebebbasandan independensi ruang redaksi harus dijaga, baik dari campur tangan orang luar maupun intervensi pemilik modal. Media massa diharapkan tetap menjaga independensi itu dari kelompok-kelompok masyarakat yang ingin mendikte, baik dengan aksi-aksi massa maupun tindakan-tindakan lainnya yang bernada ancaman.

Kebebasan pers, kata Heru, tidak mungkin terwujud bila wartawan bekerja dalam situasi korupsi, kemiskinan, atau ketakutan. Namun demikian, para wartawan perlu diingatkan untuk tetap bekerja secara profesional dan menaati etika jurnalistik.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar