Minggu, 31 Juli 2011

Simbolon di Tengah Pelestarian Budaya

Oleh : Drs. Anthon Simbolon, Msi

Tortor atau tarian, bagian dari kebudayaan dan kebudayaaan adalah jati diri suatu bangsa. Suatu bangsa diperbedakan dari yang lain melalui kekhasan kebudayaannya. Tatkala simbol-simbol kebudayaan lokal Indonesia dipakai sebagai salah satu elemen iklan pariwisata Malaysia, reaksi keras masyarakat Indonesia bermunculan yang didasari oleh rasa cinta sekaligus kekhawatiran masyarakat akan hilangnya kebudayaan tradisional mereka.

Litbang Harian Kompas pernah melakukan jajak pendapat terhadap 866 responden, menghasilkan mayoritas responden (97,6 persen) menyatakan amat bangga dengan kebudayaan lokal yang mereka miliki. Bahkan, rasa bangga yang mereka ekspresikan ini sejalan pula dengan opini mereka (99,3 persen) menyatakan perlunya melestarikan produk budaya Indonesia. Artinya, dari sisi penyikapan masyarakat, tidak ada yang patut dikhawatirkan dengan ancaman akan tergerusnya produk budaya negeri ini akibat pola penyikapan warganya.

Sikap keras dan rasa bangga yang mereka ekspresikan itu tidak serta-merta menunjukkan interaksi masyarakat yang intens dengan produk-produk budaya lokal mereka sendiri. Dengan kata lain, di tataran praksis, masyarakat sendiri sebenarnya tidak banyak mengenali dan mempraktikkan kebudayaan lokal mereka sendiri.

Dari 866 responden yang berhasil dihubungi, sebagian besar mengakui hanya tahu sedikit tentang tarian (67,8 persen), musik dan lagu (68,8 persen), pakaian (67,8 persen), masakan (53,3 persen), ataupun obat-obatan tradisional (54,3 persen) yang menjadi kekayaan budaya negeri ini.

Pengetahuan minim tentang kebudayaan lokal, dibarengi dengan pengakuan mereka secara umum dalam mempraktikkan kebudayaan lokal mereka. Misalnya, perilaku memakai pakaian tradisional dinyatakan oleh 67,9 persen responden. Pengalaman menceritakan dongeng dari daerah di Indonesia diakui oleh 65,4 persen responden jarang dilakukan masyarakat. Sejauh ini, hanya dua produk budaya tradisional yang terdaftar di badan PBB, UNESCO, wayang kulit (2003) dan keris (2005).

Kesenian Reog Ponorogo yang sempat ramai dibicarakan masyarakat berkaitan klaim Malaysia pada tahun 2007 hanya sebatas didaftarkan di Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia pada tahun 2004. Masyarakat begitu tersentak oleh berita bahwa batik dan kreasi ataupun salah satu formula teknologi pembuatannya terpatenkan oleh negeri jiran.

Tidak mengherankan jika kenyataan ini membuat hampir semua responden (95 persen) berpendapat, pemerintah perlu segera secara serius melindungi eksistensi produk budaya lokal ini dengan mematenkan produk-produk budaya lokal di lembaga internasional.

Agenda tetap dan berkelanjutan


Alangkah indahnya jika setiap daerah memiliki agenda tetap dan berkelanjutan untuk keriaan besar kebudayaan itu dalam media massa. Durasinya, masing-masing bisa selama seminggu atau sebulan. Selain bisa terus-menerus berdenyut memberi penyadaran kepada masyarakat akan kuantitas dan kualitas kekayaan budayanya, juga bisa dijadikan sebagai komoditas wisata domestik dan mancanegara.

Kegiatan itu tidak hanya menjadi acara yang menghabiskan anggaran, melainkan menjadi adrenalin bagi kegiatan ekonomi yang menguntungkan dan bisa dinikmati oleh banyak sektor usaha masyarakat. Dengan demikian, seluruh untaian mutiara di Khatulistiwa dari Sabang sampai Merauke, akan tampak berkelap-kelip memancarkan gairah pesona masing-masing sepanjang masa.

Di Ibu Kota, hal serupa wajib diselenggarakan. Area Taman Mini Indonesia Indah bisa diubah menjadi Taman Besar Indonesia Indah. Setiap daerah/anjungan bisa secara bergilir mengadakan perhelatan selama sebulan -misalnya Festival Budaya Batak dan lain-lain- dengan memanfaatkan seluruh kawasan.

Jika dipromosikan secara luas, didukung segenap lapisan masyarakat, termasuk para sponsor dan pebisnis, acara semacam itu niscaya memiliki gaung ke segala arah, menumbuhkan kebanggaan dan memperkuat jati diri suku bangsa.

Tak cukup hanya dengan cogito ergo sum. Hanya dengan bekerja, maka kita ada. Untuk itu, mungkin perlu dibentuk lembaga swadaya masyarakat semacam "Lembaga Pewaris Budaya Bangsa" atau "Lembaga Pewaris Budaya Batak" (Khusus untuk orang Batak), yang melibatkan seluruh komponen masyarakat yang peduli dan mau bekerja untuk memajukan kebudayaan.

Politik Kebudayaan Kita


Munculnya aneka protes sebagai bentuk ketersinggungan atas klaim produk-produk kebudayaan kita oleh Malaysia seharusnya segera memicu perlunya dipikirkan kembali hal-hal mendasar atas politik kebudayaan kita. Hendak diarahkan ke mana kebudayaan bangsa ini?

Berbagai kebudayaan yang sudah sejak dulu dan melekat ke dalam identitas Indonesia tidak lepas dari proses interaksi dengan pengaruh-pengaruh bangsa-bangsa lain. Tidak ada produk budaya yang murni hadir tanpa proses interaksi dengan yang lain. Menjadi khas saat ada tafsir yang estetis diwujudkan ke berbagai bentuk produk kebudayaan. Lokalitas itulah yang otentik.

Meski pernah didefinisikan, kebudayaan nasional puncak dari kebudayaan-kebudayaan daerah, bukan berarti ditafsirkan sebagai homogenisasi atas produk-produk kebudayaan lokal. Indonesia hanya merangkai suatu mosaik khazanah kebudayaan yang kaya, Bhinneka Tunggal Ika.

Reorientasi pola pikir


Satu peninggalan berharga atas Polemik Kebudayaan 1930-an melibatkan Sutan Takdir Alisjahbana, Sanusi Pane, Sutomo, Ki Hadjar Dewantara, Purbatjaraka dan lainnya, mengajarkan kepada kita pentingnya pola pikir kebudayaan yang tepat bagi bangsa kita yang plural ini.

Polemik kebudayaan perlu dilanjutkan, setidaknya untuk merangsang progresivitas pemikiran kebudayaan kita sebagai bangsa yang harus lebih maju. Bahaya besar akan muncul jika soal-soal gagasan kebudayaan tidak lagi didiskusikan secara terbuka dan merangsang suatu pemikiran terobosan bagi bangsa yang saat ini banyak dirundung masalah ini. Polemik kebudayaan itu jangan hanya disimpan di laci sejarah.

Jika kesadaran kebudayaan (maknanya lebih luas ketimbang kesenian) tertanam di benak kita sebagai bangsa yang besar dan punya banyak potensi, setidaknya upaya untuk menemukan kembali orientasi kita sebagai bangsa yang digagas oleh pendirinya berdasarkan falsafah Pancasila tidak sulit.

Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik mengatakan, sekarang ini saatnya membangun karakter bangsa melalui nilai-nilai budaya. Karya-karya budaya bangsa itu harus diusahakan agar masuk dalam akar kehidupan kita.

Setelah Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO) menetapkan wayang, keris, dan batik Indonesia sebagai Warisan Budaya Dunia, menjadi tugas kita agar nilai-nilai budaya yang terkandung di dalamnya bisa menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.

Tugas kita sekarang tidak hanya melestarikannya, tetapi bagaimana mengusahakan agar nilai-nilai budaya itu menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Tugas kita bagaimana agar karya-karya budaya bangsa itu masuk ke akar kehidupan masyarakat. Itu tidak mudah, tetapi tugas itu niscaya amat penting dan mulia.

Pengakuan MURI (Museum Rekor Indonesia) terhadap tortor Batak yang diselenggarakan Punguan Simbolon dohot Boruna Indonesia (PSBI) yang diikuti oleh sekitar 7.000 (tujuh ribu) orang penari di Istora Senayan 25 Juli 2010 lalu menunjukkan kecintaan Masyarakat Batak terhadap budayanya tanpa harus mendaftarkan diri ke UNESCO. Dilanjutkan lagi dengan Manortor Tandok Boras di Lapangan Benteng Medan oleh lebih seribu orang wanita Batak pada tanggal 10 Juli 2011 lalu. Tortor atau tari ini digelar dalam rangka memperingati Hari Ulang tahun Punguan Simbolon dohot Boruna Indonesia (PSBI) dan memperoleh penghargaan MURI (Museum Rekor Indonesia).

Tari kolosal ini tidak sekedar show of force, tetapi merupakan misi PSBI dalam rangka melestarikan nilai-nilai luhur budaya Bangsa di kalangan orang Batak sekaligus menunjukkan masih tingginya kecintaan masyarakat Batak akan budayanya. Effendi MS Simbolon mengatakan, kecintaan dan rasa memiliki terhadap budaya lokal harus diimplementasikan dalam kehidupan masyarakat sehari-hari. Bukan hanya mengaku tanpa aksi nyata.

Menurut hemat saya, pemerintah perlu memberikan apresiasi dan penghargaan kepada pelaku-pelaku pelestarian budaya seperti Effendi MS Simbolon sebagai tokoh muda yang peduli dengan pelestarian budaya lokal.

Dengan upaya pelestarian budaya yang dilakukan Marga Simbolon, diharapkan ada marga lain seperti marga Siahaan, Panjaitan, Simanjuntak mau mengikutinya. Kekayaan budaya kita menjadi asset bisa dijual untuk memajukan kepariwisataan dan menghasilkan secara ekonomis sekaligus sebagai alat peningkatan kesejahteraan bersama. Masyarakat Batak tercatat sangat antusias dengan budayanya, tapi bagaimana para tokoh budaya Batak menanamkan nilai-nilai luhur itu bersemayam di lubuh hati setiap orang Batak.

Kepedulian Pemerintah


Mencermati sejumlah kasus besar yang terjadi sepanjang tahun 2009, seperti kasus Proyek Pusat Informasi Majapahit di Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur dan kasus munculnya tari pendet dari Bali dalam iklan pariwisata Malaysia yang menimbulkan berbagai reaksi di Tanah Air, seperti menegaskan betapa keperdulian pemerintah terhadap budaya masih minim.

Terlepas dari persoalan mematenkan budaya lokal, keperdulian pemerintah baru sebatas mengejar sertifikat sebagai warisan budaya dunia, seperti untuk wayang, keris dan batik. Menjadi pertanyaan, setelah sertifikat itu didapatkan, mau dibawa ke mana kekayaan khazanah budaya bangsa ini? Bagaimana dengan budaya/seni tradisi di banyak daerah yang kini keberadaannya mencemaskan dan terancam punah? Terlalu panjang diurai mengapa kondisi seperti itu terjadi. Keberpihakan pemerintah terhadap kesenian tradisi/budaya lokal masih setengah hati. Terbukti dengan relatif kecilnya anggaran untuk pembinaan seni tradisi tersebut.

Belajar dari asing


Selama ini, pihak asing begitu perduli dengan khazanah budaya Indonesia. Jangan heran, di beberapa kesenian tradisi, orang kita belajar pada pihak asing.

Salah satu hasil kebudayaan kita sudah lama menjadi perhatian orang asing adalah naskah. Naskah-naskah dari Kepulauan Nusantara kini tersimpan di beberapa perpustakaan di sejumlah negara di dunia, seperti Belanda, Inggris, Perancis, Portugal, Jerman, Denmark, Australia dan Rusia. Naskah-naskah Nusantara itu dijaga dengan baik di luar negeri. Mereka sadar sekali, the knowledge is power.

Sekarang terdapat puluhan ribu, bahkan mungkin ratusan ribu lagi, naskah-naskah yang masih tersebar di masyarakat di berbagai daerah di Indonesia. Minat bangsa asing terhadap naskah-naskah Indonesia tetap tinggi. Di Indonesia sendiri terjadi hal sebaliknya, jangankan menambah koleksi naskah (atau mereproduksinya dari masyarakat), naskah-naskah yang tersimpan di perpustakaan saja sering hilang.

Penulis: Sekjen Punguan Simbolon dohot Boruna Indonesia (PSBI) tinggal di Cikeas-Bogor
Artikel ini juga dimuat di www.analisadaily.com

Jumat, 15 Juni 2007

Pesta Bolon Dan Perspektif Pembangunan Samosir

Oleh Drs. Anthon Simbolon, M.Si

Samosir is a gem set in a place of beauty. I hope more People will visit Samosir and learn more about the intresting culture of the Batak people. Joyce Antila Phipps.

Kabupaten Samosir kini masih berusia tiga tahun dan merupakan salah satu dari delapan kabupaten yang ada di Provinsi Sumatera Utara. Sejak tiga tahun lalu belum banyak kemajuan yang dicapai, khususnya dalam peningkatan kesejahteraan masyarakatnya. Terbukti kini Kabupaten Samosir masih termasuk Kabupatern termiskin dengan PAD pertahun kurang lebih 250 milyar. Untuk memacu pertumbuhan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan masyarakatnya, pemerintah Kabupaten Samosir melirik potensi wisata yang terpendam seperti keindahan dan keunikan pulau Samosir dan situs Danau Toba yang unik dan rupawan.

Saking rupawannya, seorang wartawan mancanegara menulis ”Samosir is a gem set in a place of beauty. I hope more People will visit Samosir and learn more about the intresting culture of Batak people.”

Dan tidak tangung-tanggung. Pemda Samosir mencanangkan visi Samosir menjadi kabupaten pariwisata pada tahun 2010. Apa artinya visi ini. Bahwa sektor kepariwisataan akan menjadi andalan pemasukan devisa dan berkontribusi secara signifikan terhadap pendapatan asli daerah (PAD) Kabupaten Samosir. Pemda Sumut juga tak ketinggalan untuk menjadikan kemolekan Pulau Samosir dan keindahan Danau Toba menjadi andalan pariwisata Sumatera Utara, walaupun kontribusinya untuk memajukan kepariwisataan Samosir sangat minim-terlihat dari ketidakpedulian terhadap meningkatnya usaha kerambah ikan apung yang nyata-nyata bisa mencemari danau Toba. Belum lagi dampak negatif atas kehadiran Toba Pulp Lestari (TPL) yang mengakibatkan terganggunya siklus hidrologi dan musnahnya berbagai spesies tanaman, burung, serangga, termasuk terjadinya erosi dan mengeringnaya aliran 145 sungai kecil yang bermuara ke Danau Toba.

Pemerintah daerah Samosir kini giat memacu pembangunan mengejar ketertinggalannya. Dengan visi 2010 ”Kabupaten Samosir akan menjadi Kabupaten pariwisata”, ingin membangun kepariwisataan yang sejajar dengan Bali, sehingga sektor kepariwisataan kelak akan mampu mendukung PADnya secara mandiri.

Kabupaten Samosir terdiri atas sembilan kecamatan (Pangururan, Harian, Nainggolan, Onan Runggu, Palipi, Nainggolan, Sitio-tio, Simanindo, dan Sianjur Mulamula) dengan jumlah penduduk sekitar 133 ribu jiwa, yang dihuni oleh lima etnik Batak (puak) yaitu angkola, mandailing, Karo, Pakpak-Dairi, Simalungun, dan Toba, merupakan pemekaran dari Kabupaten Tobasa (Toba Samosir). Wilayah Pulau Samosir memanjang sekitar 87 km dari Utara ke Selatan dengan lebar 27 km dari Timur ke Barat. Dikelilingi oleh Danau Toba seluas 1.100 km2 dengan kedalaman 450 meter dan berada pada puncak vulkanik tua pada ketinggian 905 meter di atas permukaan laut. Topografi dan kontur tanah di Kabupaten Samosir pada umumnya berbukit dan bergelombang.

Secara administratif, Wilayah Kabupaten Samosir diapit oleh tujuh kabupaten, yaitu di sebelah Utara berbatasan dengan Kabupaten Karo dan kabupaten Simalungun; di sebelah Timur berbatasan dengan kabupaten Toba Samosir; di sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Tapanuli Utara dan Kabupaten Humbang Hasundutan; dan di sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Dairi dan Kabupaten Pakpak Barat.

Dengan visi menjadi Kabupaten Pariwisata, Pemda Samosir ingin merubah arah kehidupan masyarakat Samosir dari sektor pertanian ke sektor pariwisata. Sektor pertanian selama ini merupakan andalan dalam menggerakkan roda perekonomian daerah melalui kontribusi yang sangat besar dalam pembentukan PDRB Kabupaten Samosir, yaitu 55,47 persen.(2003). Faktor pendukung keberhasilan sektor pertanian adalah curah hujan dan sekurangnya sepulu sungai yang bermuara ke Danau Toba yang bisa dimanfaatkan oleh masyarakat setempat untuk mengairi lahan sawah.

Di samping sektor pertanian, ada juga usaha perikanan yang cukup potensial di Kabupaten Samosir dan umumnya dikelola dan diusahakan masyarakat sebagai usaha rumah tangga, baik di kolam, sawah, kolam air deras, jaring apung dan usaha tempat pembenihan. Jenis budi daya yang memiliki lahan terluas adalah jaring apung dengan luas 2.808 ha. dengan hasil produksi sebanyak 615,06 ton, dari sawah sebanyak 9,10 ton, dari kolam sebanyak 4,88 ton.

Kondisi Kepariwisataan Kabupaten Samosir

Kabupaten Samosir pada dasarnya memiliki potensi pariwisata seperti panorama yang indah, objek-objek wisata seperti tempat-tempat bersejarah, rumah ibadah inkulturtif, cagar budaya, dan keunikan Danau Toba yang sempat disebut sebagai salah satu situs keajaiban dunia (world heritage), serta kekayaan seni budaya tradisionil, semuanya merupakan pesona wisata yang dapat dijadikan objek pariwisata yang apabila dikelola dengan baik akan mampu menciptakan lapangan kerja yang tinggi, mendorong kegiatan perekonomian, yang pada akhirnya dapat meningkatkan pendapatan masyarakat serta penerimaan devisa bagi kabupaten. 

Sarana akomodasi seperti hotel dan penginapan saat ini di Samosir tidak merata. Sebanyak 86 buah dengan 1.365 kamar dan 2.803 tempat tidur, terbanyak terdapat di Kecamatan Simanindo terdapat 77 hotel dengan 1.241 kamar dan 2.553 tempat tidur di Kecamatan Simanindo. Hal ini terjadi karena Kecamatan Simanindo merupakan salah satu daerah tujuan wisata yang menarik di Kabupaten Samosir, tapi kurang menguntungkan bagi pengembangan kepariwisataan Samosir.

Potensi wisata tersebut di atas belum dikelola secara optimal oleh Pemda Samosir. Pada suatu seminar ”Jaring Pendapat” yang diadakan oleh Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Samosir (Lemdayasa) beberapa bulan lalu di Hotel Sahid Jakarta ada yang mengemukakan bahwa Lembaga Kepariwisataan Internasional tidak merekomendasi wisatawan untuk bermalam (stay the night) di Samosir karena buruknya kondisi dan pelayanan wisatawan seperti kebersihan WC dan lingkungan penginapan. Hal ini tentu sangat memprihatinkan dan perlu perbaikan secara holistik ke depan. 

Pesta Bolon

Pesta Bolon yang akan diselenggarakan di Samosir pada tanggal 1-7 Juli 2007 bukanlah pestanya marga Simbolon sepeti dilansir kebanyakan orang. tapi pesta seluruh masyarakat Samosir. Pesta Bolon dengan ragam acara yang akan diselenggarakan seperti Pesta Adat, Acara Seni Budaya, dan berbagai even olahraga nasional telah mendapatkan rekomendasi tertulis dari Menteri Kebudayaan dan Pariwisata, Gubernur Sumut, DPRD kabupaten Samosir, dan dari Bupati Samosir. Pesta Bolon ini memang betul-betul akbar sehingga panitia Pesta Bolon telah menjalin kerja sama dengan PT International Events Asia, salah satu Event Organizer terkemuka dan berpengalaman di Jakarta. Sehingga pesta ini diharapkan mampu menarik jumlah wisatawan yang besar baik lokal maupun mancanegara Dan

Pesta Bolon adalah (Big Party). Bolon artinya besar, bukan ”Simbolonon Party” seperti dijelaskan oleh seorang teman ketika ditanya oleh seorang turis mancanegara. Pesta Bolon mengambil thema ”Visit Samosir 2007” diselenggarakan sebagai pesta syukuran oleh para perantau yang rindu dan peduli akan kampung halaman atas berkat melimpah dari Tuhan yang telah diterima selama dalam perantauan.

Hari pertama Pesta diawali dengan kebaktian Raya Oikumene yang akan diikuti oleh komunitas agama yang ada di Samosir dan Kabupaten sekitarnya dilanjutkan Festifal Koor yang akan diikuti oleh seluruh peserta juara dari wilayah-wilayah. Kemudian hari kedua dan ketiga akan diisi dengan pesta adat Batak mulai dari Sulang Bao, Galang paniaran, Mangkarihiri Horbo, Mangalahat Horbo, Gondang Dongan Tubu, Gondang Hula-hula, Gondang Boru, Gondang Undangan, dan Gondang parhobas. Acara adat yang diikuti seluruh peserta dari seluruh Indonesia ini dikemas cukup cermat dan teliti oleh para tokoh adat dan tokoh masyarakat setempat sehingga terasa khidmat dan sedikit bernuansa magis. Wisatawan dipastikan akan banyak datang untuk menyaksikannya.

Hari keempat akan diisi dengan festival Seni Budaya meliputi festival tata Boga, Tumba, Tortor, Lagu Batak, Musik Tradisional Batak, pameran, dan festival musik Pop Batak. Sedang hari kelima hingga hai ketujuh akan diisi dan dimeiahkan dengan kegiatan olah raga meliputi pertandingan Solu Bolon, Solu Parsadaan, Tour de Samosir, Sepeda Gunung, Marsiranggut, Monsak, Marukkor, Tarik Tambang, Catur, Samosir International 10K, Volley Pantai, Tinju Internasional, Samosir Fly-in Aerosport, dan Samosir International Open Water Championship. Selama seminggu pula, setiap malamnya akan diisi dengan ragam hiburan mulai dari Pop Batak, Musik dangdut, Jass, dan R&B.

Keseluruhan acara akan ditutup dengan upacara penyerahan hadiah kepada juara tiap lomba/festival dan pesta kembang api.

Yang paling menonjol adalah even kejuaraan nasional Renang seluruh Indonesia yang diselenggarakan oleh PRSI-Persatuan Renang Seluruh Indonesia yang dinamai Samosir International Open Water Championship. Kejuaraan nasional yang ingin memecahkan rekor jarak 1.000 meter ini terlaksana berkat keja sama yang baik antara panitia Pesta Bolon dengan PRSI yang diketuai oleh Purnomo Yusgiantoro (Menteri ESDM). Sebelumnya PRSI masih memecahkan rekor 7.500 meter. Demikian juga dengan pertandingan Catur yang direncanakan masuk MURI (Museum Republik Indonesia) akan mempertandingkan 700 orang peserta (tujuh ratus papan catur) berhadapan dengan 20 orang Pecatur Master. Even olah otak ini tentu menarik bagi wisatawan karena membuat para penontonnya ikut-ikutan olah otak.

Yang paling seru adalah lari 10 km (Ten-K) yang dinamai Samosir International Ten-K yang diperkirakan akan diikuti sekitar 10.000 (sepuluh ribu) orang mulai dari pelajar SMP, siswa SMU, pemuda, orangtua dan termasuk turis lokal dan mancanegara dengan rute start dari Kampung Simbolon dan finish di Pangururan ibu kota Kabupaten Samosir. Even olah raga ini tentu mengundang minat keterlibatan banyak wisatawan. 

Yang paling monumental adalah upacara adat Batak yang diselenggarakan dengan khidmat seperti upacara-upacara adat yang ada di Bali. Turis lokal dan mancanegara akan melihat keunikan adat batak yang sebenarnya dan diwariskan secara berkesinambungan sebagai aset budaya yang perlu dilestarikan dan menjadi komoditi pariwisata yang bisa ”dijual” di masa mendatang.

Perspektif Pembangunan Samosir

Dengan visi Kabupaten Samosir menjadi Kabupaten Pariwisata pada tahun 2010, maka strategi pembangunan Samosir harus memberikan prioritas utama pada sektor pariwisata termasuk di dalamnya strategi mendatangkan wisatawan lokal dan mancanegara sebanyak-banyaknya berkunjung ke Samosir. Pembangunan infrastruktur dan kelembagaan lainnya tidaklah cukup. Pembangunan nonfisik seperti masalah budaya dan etos kerja juga harus seiring, mengingat masyarakat Samosir dikenal belum merupakan masyarakat yang tourism minded atau tourism oriented. Adanya rencana pembangunan Balai Latihan Kerja (BLK) dalam waktu dekat di Kabupaten Samosir perlu benar-benar diarahkan untuk bisa mencetak tenaga profesional bagi kepariwisataan Samosir.

Pembangunan BLK ini dan beberapa pembangunan lainnya seperti perbaikan Tano Ponggol, dan ruas jalan di Samosir adalah atas kepedulian seorang tokoh politik Drs Effendi MS Simbolon sehingga Menteri PU dan Menakertrans berkenan memperhatikan kemajuan pembangunan Kabupaten Samosir, sebagaimana diucapkan oleh Bupati Samosir Ir. Mangindar Simbolon dalam sambutannya pada acara Konsolidasi organisasi Punguan Simbolon dohot Boruna Se-Indonesia dan Sosialisasi Pesta Bolon-Visit Samosir 2007 di halaman Kamtor Bupati Samosir bulan April 2007 lalu.

Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Indonesia Ir. Jero Wacik, SE dalam pesannya kepada Panitia Pesta Bolon mengatakan di mana ada pariwisata, di situ kesejahteraan masyarakat akan ada. Keramahan, sopan santun, dan hospitality adalah modal utama pariwisata, Saya mengimbau orang Samosir untuk membangun Pulau Samosir, dan orang Samosir harus ada di depan untuk ini. Tidak semua primordialisme itu negatif, karena orang yang paling ingin Samosir itu maju adalah orang Samosir itu sendiri. Saya senang senang dengan rencana Panitia Pesta Bolon di Samosir. Indonesia terdiri atas banyak tempat, tentu jika Samosir terangkat, Indonesia akan terangkat juga. Coba anda lihat, kalau ada turis datang, mereka bayarhotel, restoran, beli souvenir, dan sebagainya. Itu uangnya langsung diterima masyarakat, tidak mampir lagi.

Secara statistik, orang Indonesia rata-rata baru mengenal 2,8 persen dari 33 provinsi di Indonesia artinya orang Indonesia belum sepenuhnya mengenal negerinya. Kepada Ketua Penyelenggaran Pesta Bolon Ir. Raden Simbolon, Menbudpar mengatakan bahwa penyelenggaraan Pesta Bolon sejalan dengan program pariwisata Menbudgar yaitu ”Kenali Negerimu, Cintai Negerimu”.

Penyelenggaraan Pesta Bolon harus dijadikan sebagai momentum penting dan berharga dalam konteks pembangunan Samosir ke depan bagi Pemda Samosir dalam rangka , memperkenalkan potensi pesona wisata Samosir.

Pesta Bolon-Visit Samosir 2007 sudang diambang pintu, tapi dampak lanjutannya sudah mulai terasa. Respons positif dari beberapa marga dan suku Batak yang ada di Jakarta sudah muncul untuk menyelenggarakan pesta yang sama. Tinggal sekarang Pemerintah Kabupaten Samosir yang harus proaktif ”jemput bola” tanpa harus menunggu. Kumandangkan kata ”siap menjadi tuan rumah yang baik dan welcome” bagi setiap perantau yang mau bikin pesta akbar di kampung halaman. Bangkitkan kembali slogan ”Jangan mati dulu sebelum melihat keindahan Pulau Samosir” . Sebab, memang, Samosir is a gem set in a place of beauty.

Dengan demikian perspektif pembangunan Samosir menjadi Kabupaten Pariwisata pada 2010 akan bisa jadi kenyataan.

Penulis adalah Magister Komunikasi dan seorang Perwira Menengah di Ditjen Renhan Dephan.
Note:
Dikirim ke suarabatakpos@yahoo.co.id hari Jumat tanggal 15 Juni 2007.
Dikirim ke pelita_rakyat@yahoo.com hari Jumat tanggal 15 Juni 2007.